Ya Rabb,,hanya kepada-Mu tempatku mengadu,,mengadukan apa yang sedang kubimbangkan dalam hatiku,,
ketika langkah masih tertatih untuk melangkah mendekati-Mu,,
ketika jalan masih terseok untuk mengejarmu,,
ketika masih banyak dosa yang ingin kuperbaiki di hadapan-Mu,,
ketika masih banyak lagi kesalahan dan kekurangan dalam diriku,,
ketika hati belum cukup tegar untuk berada tetap pada jalan-Mu,,
ketika jiwa ini masih belum bisa sepenuhnya menghamba pada-Mu,,
ketika keteguhan hati masih sering tergoyahkan akrena lemahnya iman kepada-Mu,,
engkau mengujiku tepat pada bagian terlemah dalam diriku,,
ya,,tepat berada pada hatiku,,,
sungguh tak mudah menaklukkannya hanya untuk-Mu YA Rabb..
sering kali aku merasa tak mampu untuk melaluinya...
dan akupun tahu alasan-Mu dibalik itu semua..
ya,,,karena Engkau ingin aku senantiasa kembali mengingat-Mu dan kembali mencintai-Mu,,
tak henti-hentinya aku mengadukan hal yang sama kepada-Mu hanya untuk menjaga hatiku..
dalam doaku,,ku hanya berharap Engkau menggeggamnya erat,,hingga tak mampu lagi dia berpaling dari wajah-Mu...
Allah,,,sungguh aku hampir menyerah,,
Engkau Maha Tahu,,seringnya aku meluapkannya dalam sujudku,,
meski tak kan pernah cukup untuk mewakili semuanya,,
Allah YA Sami',,
ku tahu Engkau Maha Melihat
Allah Ya Bashir,,
ku tahu Engkau mendengar setiap jeritan hati,,
selama dia belum halal bagiku,,jangan biarkan hati ini terkotori kepada makhluk selain-Mu,,
Allahu Rabbi,,bimbinglah setiap langkah ini,,hanya menuju pada cinta-Mu yang hakiki..bukan cinta semu seperti ini,,,
amin1212
Kamis, 18 Maret 2010
Jumat, 26 Februari 2010
sahabat??

dulu mungkin kata itu pernah lama mengiringi kebersamaan kita,,,
namun apa yang terjadi??
akankah nama itu seindah artinya?
sahabat yang dulu ku kenal tak lagi seperti dulu,,kini semuanya berubah,,,
tak ada lagi sapaan hangat
tak ada lagi canda terdengar
tak ada lagi ikatan persaudaraan yang melandasinya
tak ada lagi kehangatan untuk berbagi...
ya,,hanya sebatas kata terucap sebagai pemanis kata sahabat,,tanpa sedikitpun realisasi..
itukah arti sahabat di benakmu?
jika memang memori menisakan luka, kenapa kata maaf tak bisa gantikan untuk mengobatinya...
ku merindukan sahabat seperti yang dulu,,,
tempat baebagi tangsi dan tawa,,
tempat berbagi keluh kesah dan canda,,,
ku hanya ingin SAHABAT
tak lebih dari itu
masihkah sahabat itu ada????
ya,,hanyalah sebatas nama...
Sabtu, 23 Januari 2010
subhanallah Ya Rabb....
Engkau memberikan hikmah yang begitu luar biasa kepada-Ku hari ini melalui sebuah cerita saudariku yang mwngingatkanku pada kalam-Mu
"maka nkmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman:13)
karena karunia yang Kau berikan kepadaku jauh lebih besar dari yang dapat kuhitung...
malunya diriku bila aq masih merasakan sebagai seorang manusia yang tidak beruntung,,karena belum sberapa ujian yang ku dapatkan daripada cerita yang baru saja kudengar,,,
mungkin ku belum mampu membantu apa-apa untuknya,,tapi ku yakin,,suatu saat akan ada pertolongan yang besar dari-Mu,,karena Engkau Tuhanku yang Maha Adil,,
bantulah beliau Ya Allah,,,kuatkanlah dia untuk tetap tegar menjalani ujian-Mu,,untuk tetap bersabar dan ridho atas ketetapan-Mu,,,
karena sesungguhnya dalam setiap kesuliatan ada kemudahan, dalam kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyirah:5-6)
Engkau memberikan hikmah yang begitu luar biasa kepada-Ku hari ini melalui sebuah cerita saudariku yang mwngingatkanku pada kalam-Mu
"maka nkmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman:13)
karena karunia yang Kau berikan kepadaku jauh lebih besar dari yang dapat kuhitung...
malunya diriku bila aq masih merasakan sebagai seorang manusia yang tidak beruntung,,karena belum sberapa ujian yang ku dapatkan daripada cerita yang baru saja kudengar,,,
mungkin ku belum mampu membantu apa-apa untuknya,,tapi ku yakin,,suatu saat akan ada pertolongan yang besar dari-Mu,,karena Engkau Tuhanku yang Maha Adil,,
bantulah beliau Ya Allah,,,kuatkanlah dia untuk tetap tegar menjalani ujian-Mu,,untuk tetap bersabar dan ridho atas ketetapan-Mu,,,
karena sesungguhnya dalam setiap kesuliatan ada kemudahan, dalam kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyirah:5-6)
Selasa, 19 Januari 2010
rinduku...
sebenarnya bisa saja kutuliskan syair indah untuknya
namun ku tahu Engkau cemburu
sebenarnya bisa saja kusampaikan rasa rindu ini kepadanya
namun ku tahu Engkau cemburu
sebenarnya bisa saja kuungkapkan rasa terdalamku untuknya
namun ku tahu Engkau cemburu
dan bisa saja ku lakukan apapun untuknya
namun ku tahu Engkau Maha Pencemburu
Ya Rabb...
janganlah Engkau cemburu padanya
karena ku hanya manusia biasa
yang Engkau karuniakan sebuah rasa bernama CINTA
Mungkin ku tak pandai menyimpannya sendiri
hingga harus ku tuliskan sebuah cerita tentangnya..
dia yang tlah mengisi sebagian hatiku...
tak tahu apakah hanya karena nafsu ataukah sebuah ujian untukku
dalam melalaikanMu,,
biarlah ku simpan dalam rasa ini hingga ku tak mampu lagi memendamnya
biarlah waktu dan ketetapanMu yang mampu menjawabnya,,
buatlah aku ridho pada ketetapanMu...
maaf Ya Allah...aku sdang merindukannya....
namun ku tahu Engkau cemburu
sebenarnya bisa saja kusampaikan rasa rindu ini kepadanya
namun ku tahu Engkau cemburu
sebenarnya bisa saja kuungkapkan rasa terdalamku untuknya
namun ku tahu Engkau cemburu
dan bisa saja ku lakukan apapun untuknya
namun ku tahu Engkau Maha Pencemburu
Ya Rabb...
janganlah Engkau cemburu padanya
karena ku hanya manusia biasa
yang Engkau karuniakan sebuah rasa bernama CINTA
Mungkin ku tak pandai menyimpannya sendiri
hingga harus ku tuliskan sebuah cerita tentangnya..
dia yang tlah mengisi sebagian hatiku...
tak tahu apakah hanya karena nafsu ataukah sebuah ujian untukku
dalam melalaikanMu,,
biarlah ku simpan dalam rasa ini hingga ku tak mampu lagi memendamnya
biarlah waktu dan ketetapanMu yang mampu menjawabnya,,
buatlah aku ridho pada ketetapanMu...
maaf Ya Allah...aku sdang merindukannya....
Rabu, 13 Januari 2010
Karena Aku Mencintaimu
Karena Aku Mencintaimu
Wahai Ukhty…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu
Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah
Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.
Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….
Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu....
Wahai Ukhty…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu
Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah
Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.
Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….
Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu....
Selasa, 05 Januari 2010
menghias hati dengan menangis
"Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Bukhari dan Muslim)
Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.
Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.
Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An'am ayat 164. "...Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."
Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.
Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.
Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.
Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.
Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah."
Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. "Pasti, pasti saya akan masuk surga," begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.
Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.
Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.
Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."
Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
"Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (QS. 80: 34-37)
Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.
Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. "Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.
Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.
Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.
Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An'am ayat 164. "...Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."
Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.
Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.
Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.
Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.
Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah."
Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. "Pasti, pasti saya akan masuk surga," begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.
Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.
Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.
Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."
Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
"Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (QS. 80: 34-37)
Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.
Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. "Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
